Cerita Pendek
Aku adalah seorang pejuang, nanti kamu akan mengetahuinya. Entah kamu akan menyebutku pejuang seperti apa, nanti. Aku tinggal disebuah kota besar, sebesar kota yang bisa kamu bayangkan. New York, Amsterdam, London, Jakarta. Itu kan kota kota besar yang bisa kamu bayangkan? Ahh.. kamu belum melihat kotaku. Kota ku ini sangatlah lebih megah dari kota-kota yang pernah kalian bayangkan. Kota ku ini sangat berkilauan, banyak sekali lampu lampu neon yang mewarnai setiap sudut kota. Terlalu banyak bahkan. Setiap gedung pasti mempunyai lampu mereka yang unik unik, seperti neon panjang yang di lekuk lekuk menjadi tulisan, beragam billboard yang berisikan iklan iklan keren yang belum pernah kalian lihat, koran umum yang terbuat dari kaca transparan dan ada tulisanya seperti tulisan kalkulator. Kalian pernah melihat Time Square? Seperti itulah gambaran kotaku, hanya saja lebih gemerlap lagi dan lebih modern. Hampir semua benda yang bertebaran ini seperti bisa merefleksikan cahaya dari neon neon itu, dari aspal, tembok gedung pencakar langit, kendaraan, bahkan sampai baju yang dikenakan orang-orang yang sedang berjalan jalan pun berkilauan. Gedung gedung di kota ini sangat tinggi, kali ini setinggi apa yang bisa kalian bayangkan. Namun jumlahnya sangat banyak. Kota ini tidak banyak pohon, mungkin ada beberapa ditepi jalan tapi tidak terasa keberadaanya. Sumber energi yang digunakan di kotaku ini sudah tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil. Disini sumber energi bergantung pada listrik yang berasal dari panel surya. Kotaku adalah kawasan kota yang semarak dengan banyak bangunan yang menjulang tinggi, dan gang-gang sempit di area gedung pencakar langit ini membuat serasa berlajan melalui lembah yang sangat futuristik.
Gaya fashion orang orangnya pun mungkin bagi kalian sangat aneh, dimana baju yang mempunyai neon unik unik disini sangat menjadi trend. Baju yang ku kenakan saat ini pun seperti itu. Aku menggunakan jaket berwarna coklat yang tidak ku tutup resletingnya agar terlihat kaos polos berwara hitam yang ku kenakan. Jaketku kusingsingkan lenganya sampai sedikit dibawah siku. Kerah jaketku tidak menempel dileherku, melainkan melingkari leherku dari kanan memutar kebelakang sampai kekiri dan ada neonya dibagian sisi dalam kerah. Warna neon di kerahku ini akan menyesuaikan moodku, ketika aku sedang marah maka dia akan berubah menjadi merah. Ketika aku sedang kalem maka warnanya akan menjadi biru. Begitu juga neon yang melingkari alas sepatuku. Kalian tidak akan percaya dengan tanganku, kalian akan kehilangan nyawa bila kupukul dengan tanganku ini. Tidak akan terlihat aneh memang jika hanya dilihat. Tapi tangan ini terbuat dari platinum, aku membelinya 7 bulan yang lalu. Rambutku hanya ada dibagian atas jidat terbentang kebelakang seperti kipas berwarna hijau neon. Sangat mencolok bukan?
Namun sayangnya kota ini tidak segemerlap seperti yang terlihat dimata. Aku tinggal disebuah tempat bersama sekitar 7 orang temanku. Tempat itu memiliki lebih dari satu pintu masuk, terlalu banyak mungkin. Ada banyak kendaraan melintas diatas tempat tinggal kami. Setidaknya kami punya kendaraan sendiri sehingga kami tidak perlu iri dengan semua kendaraan yang melintas diatas tempat tinggal kami. Hari ini aku bersama Yong, dia anak baru dikoloni kami.
“ Let’s go Bud!”. Sambil membuka pintu mobil ke atas.
“Bersemangat sekali nampaknya.” sambil kubuang puntung rokok yang sedari tadi kuhisap.
“Aku hanya ingin menunjukan kepada kalian kalau aku anak baru yang akan sangat berguna.” sembil menyilakkan rambutnya kearah kanan,
rambutnya hanya disebelah atas kekanan kepala berwarta gradasi hijau ke ungu diujung. Selain itu hanya botak. Yong hanya menggunakan kaos singlet yang berneon ditiap tepinya, tato dibadanya terlihat sangat eksentrik. “Yeahhh.. jangan terlalu bersemangat.”. Kami menaiki mobil lalu pergi.
Kami tiba disebuah gedung yang sudah lama tidak terpakai, lokasinya berada dipinggiran kota. Menunggu seseorang datang. Tak lama aku dan Yong harus menunggu, orang itu datang. Berambut hitam panjang belah tengah, menggunakan kacamata dan hanya menggunakan rompi antipeluru. Badanya terlihat kekar, tangan kananya terlihat sekali terbuat dari platinum. Kulit palsu yang ada ditangan kananya sepertinya terkelupas karena kejadian yang cukup besar. Orang itu keluar dari mobil, terlihat sangat gagah dan maco. Membawa sebuah map ditangan, yang berisikan biodata. Aku yang bersandar dipintu mobil menggerakan kepalaku memberi kode kepada Yong untuk menghampiri orang tersebut. Sambil berdiri Yong menghela napas
“Aaahhhhh.. akhirnya datang juga. Hai Mr. K. Aku anak baru disini”, orang itu hanya terdiam.
Tidak terlihat jelas lirikan matanya mengarah kemana karena dia menggunakan kacamata hitam. Ahh dia sangat keren sekali.
“Yang kali ini aku bebaskan kalian, tuntaskan. Tetapi tetap rahasia.”
“Okee” sahut Yong tanpa ragu dan menerima map coklat yang diberikan.
Orang itu langsung pergi menggunakan mobilnya menginggalkan aku dan Yong yang masih belum bergerak sama sekali. Sepertinya Yong juga terpana melihat karisma orang itu.
“Sepertinya aku menyukainya.” sambil membuka isi map.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapan itu. Tidak banyak orang yang berani mendekati orang tadi, wibawa dan karima yang terlalu tinggi terkadang membuat orang lain sungkan untuk menjadi lebih akrab.
“Japantown, Ike 25 tahun pemilik restoran, anak polisi, dan …”
“Itu cukup mudah” kupotong sambil ku beranjak dari sandaran
“Japantown bukan tempat yang sulit untuk ini.”
Kami meninggalkan tempat itu. Diperjalanan Yong sibuk membaca bio Ike, aku hanya tersenyum tipis melihatnya. Data itu tidak terlalu penting seharusnya, cukup nama, status sosial, dan lokasi saja yang kita perlukan untuk pekerjaan ini. Selain itu hanya pelengkap yang tidak penting, kami sudah terbiasa untuk ini.
Memasuki kawasan tempat tinggal, orang orang sedang bersantai disekitar api yang berada didalam tong. Ini pukul sebelas malam, perjalanan dari lokasi tadi menuju tempat tinggal memakan waktu sekitar tujuh jam.
Aku dan Yong menghampiri mereka.
“Jadi apakah akan seru?” Wingko.
Dia adalah ahli strategi kami. Sambil bersandar dibilah kayu, dengan siku kiri sebagai sandaran dan tangan kanan bersandar diats lutut kaki kanan yang ditekuk. Badanya besar berotot seperti Heihachi Mishima.
“Japantown” kata Yong
“Jarang nih kita kesana. Gimana tuh pak tua?” spontan Joshua bertanya.
Si anak remaja yang sangat hiperaktif. Tapi kemampuan dia dalam hacking tidak bisa diragukan.
“Sepertinya sedikit sulit.” Wingko nampak memikirkan strategi.
“Ayolah Wa, kita kerjakan seperti biasa lahh. Lagi pula Japantown bukan tempat yang menjadi pusat perhatian bukan? Pasti akan berjalan lebih mulus dari biasanya.” sambil kulempar map coklat itu ke dekat tong api.
“Biar kupikirkan, kalian semua bergegaslah tidur! Besok pagi ada uang yang harus dijemput. Jhosua, David, Mio. Zero mistake!”
“Ayo lah wak, apa sih yang perlu dipikirkan?”
“Ini bukan tempat yang biasa kita kerjakan Bud. Kita tidak bisa melakukan kesalahan, kepercayaan Mr. K tidak bisa kita pertaruhkan.”
“Okee okeeee”
“Kau besok ikut aku ke Japantown. Kau juga Yong. Biar Jordi yang stay disini.”
“Oke” kata Yong yang seperti biasa cukup bersemangat
Aku tidak bisa berfikir seperti apa yang dipikirkan Wingko, yang ada dikepalaku sekarang kenapa hal yang seharusnya mudah masih perlu dipertimbangkan lagi. Dipikiranku pekerjaan ini sudah bertahun tahun kita kerjakan, seharusnya kita sudah sangat ahli.
Bersambung …
Komentar
Posting Komentar